jump to navigation

jangan bermaksiat Desember 21, 2009

Posted by anisafsx1a11 in Uncategorized.
trackback

Sebagian ikhwah mungkin menyangka bahwa Alloh akan memakluminya jika ia bermaksiat lantaran menurutnya ia telah lama beriltizam kepada Islam dan bergabung dengan para aktivis Islam. Maka ia pun memandang remeh urusan maksiat. Apalagi setelah berlalunya masa yang panjang dari iltizamnya, setelah mulai berkurang dan menipis hammiyahnya (pembelaan), dan ghirahnya (semangat).
Ketika seorang telah menganggap remeh dosa-dosa kecil, atau mentolerir perkara-perkara syubhat, dengan segera ia akan merasakan akibatnya dari Alloh ‘azza wa jalla. Dahsyat memang!
Pernah ada seseorang yang melakukan perbuatan maksiat, beberapa jam kemudian ia sudah mendapati hukuman yang berat dikarenakan perbuatannya itu. Ia kebingungan dan berkata pada dirinya sendiri ,”Aku telah melakukan perbuatan dosa yang semacam ini atau bahkan lebih besar lagi, lebih dari 100 kali sebelum aku beriltizam dan aku tidak mendapati hukuman atas perbuatanku itu. Sekarang, hukuman yang aku dapati sangatlah kuat, langsung dan kuat!”
Seandainya orang ini mengerti agamanya dengan baik, niscaya ia akan mengerti bahwa sebenarnya Alloh sedang “cemburu” atas dilanggarnya perkara-perkara yang diharamkan-Nya. Kecemburuan Alloh ini semakin besar manakala pelaku pelanggaran itu adalah wali-wali-Nya yang selama ini mendekatkan diri kepada-Nya, yang semestinya menjadai orang yang paling jauh dari segala bentuk kemaksiatan.
Para pembawa panji risalah Islam adalah orang-orang yang semestinya paling bertakwa kepada Alloh dan paling menghindari dosa-dosa kecil serta perkara-perkara syubhat, apalagi yang haram. Mereka melarang orang lain melakukannya, bagaimana bisa mereka sendiri melakukannya?
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar Kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3)
Lebih dari itu, ini akan melahirkan fitnah di kalangan kaum muslimin pada umumnya saat mereka mengetahuinya –dan suatu saat mereka pasti akan tahu- dan akan mengakibatkan hilangnya maratabat qudwah dan uswah yang seharusnya menjadi perhiasan setiap ikhwah.
Karena itulah Alloh berfirman:
“Maka apabila diri kalian condong setelah datangnya bukti yang nyata, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah: 209)
Perhitungan bagi mereka (wali-wali Alloh yang melakukan pelanggaran) adalah perhitungan yang berat, lebih berat dan lebih sulit dibandingkan dengan perhitungan untuk orang-orang selain mereka. Untuk itu hendaknya setiap ikhwah mengerti dengan ilmu, yakin bahwa Alloh dan anak Adam itu –apapun pangkatnya- tidak ada hubungan kerabat atau kekeluargaan. Alloh senantiasa memutuskan sesuatu dengan tepat dan adil.
Setiap ikhwah yang tergabung dalam sebuah organisasi Islam hendaknya mengingatkan diri dengan firman Alloh ta’ala:
“bukanlah karena angan-angan kalian, bukan pula angan-angan ahli kitab, barang siapa mengerjakan kejahatan maka ia akan diberi balasan karena perbuatannya.” (An-Nisa: 123)
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)
Lihatlah Bal’am bin Ba’ura yang konon mengetahui nama Alloh yang teragung, ketika ia bernaksiat kepada Rabbnya, ia pun berubah seperti anjing, dalam keadaan yang selalu menjulurkan lidah. (lihat tafsir surat al-A’raf: 175)
Dosa dan kemaksiatan adalah sumber malapetaka. Tidak ada bencana yang menimpa melainkan dosalah penyebabnya, dan bencana tidak akan dihentikan kecuali dengan taubat.
“Sungguh seorang hamba itu akan terhalangi dari rizki dikarenakan dosa yang dilakukannya.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)
Betapa banyak orang yang mengucapkan kata-kata yang haram, karenanya Alloh menghalanginya dari beningnya hati. Atau karena ia mengkonsumsi makanan yang syubhat (dengan begitu ia mendzalimi hatinya) maka ia terhalang dari qiyamullail dan shalat untuk bermunajat.
Akibat lainnya adalah kemaksiatan akan menghantarkan kepada kemaksiatan yang lain, kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan berikutnya, dan begitu seterusnya.
Seorang yang bermaksiat mungkin saja melihat badan, harta dan keluarganya baik-bauk saja. Ia merasa tidak ada hukuman atas kemaksiatan yang dilakukannya. Sebenarnya saat itulah ia sedang mendapat hukuman. Cukuplah menjadi hukuman baginya ketika manisnya kelezatan iman berubah menjadi hambar tak berasa dan yang tersisa tinggal pahitnya penyesalan, kesedihan dan kegelisahan.
Diriwayatkan ada beberapa orang pendeta Bani Israil bermimpi melihat Rabbnya, ia berkata, “Duhai Rabbku, betapa banyak aku telah banyak bermaksiat kepada Mu tetapi Engkau tidak pernah memberikan hukuman atas semua itu?” Rabbnya menjawab, “Betapa banyak Aku telah memberikan hukuman kepadamu, tetapi kamu tidak pernah tahu. Bukankah Aku telah menghalangimu dari merasakan manisnya bermunajat kepada Ku?!”
Kadangkala buah dari kemaksiatan yang ia lakukan, berupa Alloh akan menjadikan kebencian dari berbagai hati kepadanya, atau terhalanginya dakwah tanpa sebab yang jelas. Abu Darda’ r.a. berkata, “Ada seorang hamba yang sembunyi-sembunyi dalam bermaksiat kepada Alloh ta’ala, lalu Alloh menumbuhkan rasa benci dalam hati orang-orang yang beriman kepadanya tanpa pernah ia menyadarinya.”
Ibnul Qayyim pernah menuliskan pengaruh yang ditimbulkan oleh kemaksiatan: “Hidayah yang sedikit, ra’yu (pikiran) yang rusak, kebenaran yang tersembunyi, hati yang bobrok, ingatan yang lemah, waktu yang terbuang sia-sia, makhluk yang menjauhinya, takut berhubungan dengan Rabbnya, do’a yang tidak dikabulkan, hati yang keras, rizki dan umur yang tidak berbarokah, terhalanginya dari ilmu, diliputi kehinaan, direndahkan oleh musuh, dada yang sempit, mendapatkan teman-teman jahat yang merusak hati dan membuang-buang waktu, kesedihan dan kegundahan yang panjang, kehidupan yang menyesakkan dan pikiran yang kacau. Semua itu merupakan buah kemaksiatan dan akibat kelalaian dari dzikrullah, seperti halnya tetumbuhan yang subur dengan air dan kebakaran bermula dari sepercik api. Begitupun sebaliknya, semua kebalikan dari hal-hal tersebut di atas merupakan buah dari ketaatan.”
Waspadalah terhadap kejahatan yang disepelekan. Ia mungkin saja dapat membakar negeri. Wahai yang senantiasa tergelincir, mengapa kau tidak memperhatikan apa yang membuatmu tergelincir?!.
*Disadur dari buku “Nasehat-nasehat Rasulullah saw, Penawar Lelah Pengemban Dakwah” … dengan diedit seperlunya.

Kawan, marilah kita selalu memperbaiki diri kita, mendekatkan diri kepada Alloh, agar selalu terjaga di jalan Alloh.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: